Akhirnya mudik selesai. Semua tentang “membandingkan & pencapaian”

Alhamdulillah mudik selesai juga. Senang rasanya, semua saudara berkumpul menyempatkan waktu untuk bersilaturahmi di Wonogiri. Semua anak si ‘mbah ada 9 orang, ayahku anak ke 6 dan ‘mbah sudah mendapatkan cucu dari semua anak-anaknya.

Hari ini rasanya lega sekali bisa pulang, karena tidak akan ada orang yang membandingkan aku dengan orang lain selama di Bandung. Membandingkan sebuah pencapaian adalah hal yang sering aku dengar selama silaturahmi.

Saat bosan di Wonogiri kemarin, aku sempat membaca artikel dari Leo Babauta yang membahas membandingkan hidup diri sendiri dengan orang lain.

Ada 2 jenis membandingkan:

  • Melihat apa yang orang lain lakukan berharap dapat melakukan hal yang sama.
  • Atau yang seperti ini, membandingkan apa yang mereka lakukan dan menghakimi mereka. Karena melihat nasib diri sendiri lebih baik

Contoh simple nya seperti ini:

logo panah arrow 1: Melihat orang lain lebih baik dari diri sendiri.

Aku punya instagram tapi jarang posting sih :D, tapi anggota keluarga lain? Beuh…, jangan ditanya. Aku melihat hal-hal yang diposting dari makan malam di SKYE, ke Maldives, mobil yang masih ada plastik joknya, beasiswa LPDP ke Perancis … umumnya kehidupan yang menakjubkan dan mewah.

Terkadang aku suka membandingkan kehidupan ini dengan orang lain, bertanya kepada diri sendiri “kenapa aku gak bisa seperti itu ya?, padahal sudah sama-sama berusaha dan berdoa”. Pernah juga terpikir bahwa ini semua tidaklah adil. Sejenak aku terdiam ketika melihat kembali instagram yang ia miliki, mereka hanya posting sisi hidup yang menyenangkan saja. Mereka tidak posting masalah pribadi tentang kecemasan masa depan, rasa bosan dan rasa tidak aman. So, jangan lihat sisi hidup seseorang dari hal yang bersifat material. Kita tidak pernah tahu, apakah ketenangan hidup kita lebih baik dari mereka.

Lalu apakah untuk menjadi lebih bahagia, kita harus berusaha menjadi diri mereka?, akankah menghilangkan sifat iri dengki yang ada dalam diri dengan meraih hal yang tidak dimiliki?

Tidak: kebahagiaan berasal dari menghargai apa yang ada di depan mata. Mencari makna dan tujuan hidup dan tidak hidup dalam khayalan. Kita tidak perlu iri kepada orang lain. Dengan ikhlas, cintai apa yang kita miliki sekarang, cintai apa yang kita lakukan, dan cintai hal baik apa yang kita lakukan kepada orang lain. Itu yang penting. Membandingan diri sendiri dan orang lain tidak membuat hati kita tentram atau menghargai hidup – “membandingkan” hanya membuat diri kita merasa buruk tentang diri kita sendiri.

logo panah arrow 2: Melihat diri sendiri lebih baik dari orang lain.

Katakanlah dia sudah bekerja keras selama beberapa tahun ke belakang, dapat beasiswa ke luar negeri, gaji hampir 3 digit dan punya mobil (semua tentang pencapaian). Dia pintar dan dia bangga akan hal yang telah dimilikinya saat ini. Lalu dia melihat saudara sebayanya yang masih “gitu-gitu aja dari dulu”, yang kuliah swasta dan belum memiliki kemewahan yang dia miliki. Salah satu reaksi yang umum ketika melihat orang yang belum sukses adalah: “Kenapa dulu nggak rajin kulian?, kenapa nggak jadi pns aja?, kenapa dia tidak punya perencanaan yang matang dalam hidup?, ah.. itu sih salah dia sendiri dan jangan sampe aku seperti dia!”.

Jadi kita menghakimi mereka, dan merasa superior karena tidak memiliki nasib / kebiasaan buruk. Apakah ini membuatmu bahagia?: menilai orang lain seperti ini hanya membuat kita tidak menyukai orang tersebut. Ini sih bukan bentuk kebahagiaan. Perlu diingat, orang yang belum sukses tersebut bukannya tidak mau sukses, tapi menunggu waktu dan berusaha sukses. Waktunya kapan?, kan lagi usaha & berdoa. Sebaiknya kita mempertimbangkan untuk mencoba memahami perasaan orang yang belum sukses tersebut jika tahu bagaimana rasanya melalui kesulitan dan putus asa. Kita tidak tahu bagaimana rasanya menjadi orang ini, tapi mungkin kita bisa membayangkan bahwa mereka menderita, dan kita hanya bisa berharap dan memberi dukungan supaya keadaannya berubah.

checklist logo clipart Hargailah diri anda dimanapun Anda berada. Dari pada melihat kehidupan orang lain, lihatlah kebaikan yang ada di depan diri masing-masing. Dalam diri kita. Jika kita menemukan diri kita membandingkan kehidupan dengan kehidupan orang lain, syukuri apa yang ada saat ini, karena hidup adalah anugerah. Lalu berusaha untuk memahami keadaan orang lain. Bila kita menemukan diri kita merendahkan atau secara tidak sengaja menyinggung orang lain…Tanyalah kepada diri kita sendiri: Apakah mereka sudah melalui waktu yang sulit? Apakah mereka frustrasi? Sedih? Marah? Merasa putus asa? Jika nasib kita lebih baik dari orang lain, syukurilah itu. Jangan memberikan argumen yang menyakitkan. Karena yang diberikan Allah kepada setiap orang adalah yang terbaik dan juga Roda Selalu Berputar.

Advertisements

10 Replies to “Akhirnya mudik selesai. Semua tentang “membandingkan & pencapaian””

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s