Tips Lebaran tidak bete & menyenangkan. 1437H

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H

Idul Fitri / Lebaran. Momen sakral ini adalah momok yang harus aku hadapi setiap tahunnya. Ada hal mengganjal yang selalu berulang-ulang tiap tahunnya, mungkin ini yang dinamakan Lebaranphobia: Phobia menyambut hari raya Lebaran :D. Sebagai lelaki yang belum menikah selain diperlukan fisik yang kuat dan keuangan yang memadai, yang paling utama dalam menyambut lebaran adalah mempersiapkan mental sekuat baja dan kemampuan bersilat lidah level pro.

Kemampuan bersilat lidah dari apa?, iya sudah bisa ditebak. Kemampuan bersilat lidah dari anggota keluarga lain yang ingin tahu kehidupan pribadi kita / mendadak kepo. Selain sepupu yang sudah menikah, tetangga yang merasa kenal denganku,  biasanya paman atau bibi sering bertanya hal-hal pribadi selama berada di kampung halaman. Lalu, bagaimana agar lebaran kita menyenangkan dan tidak bete walaupun digempur pertanyaan menyangkut kehidupan pribadi.

logo panah arrow Cari sepupu yang seumuran untuk teman ngborol

Bagiku memilih sepupu sama seperti memilih susu, ada cocok dan nggak cocok nya. Sepupu yang baik adalah ia yang tidak pamer kekayaan ketika bertemu, obrolannya asik, nyambung, have a lot of interest, nggak kolot & easy going. Tapi tipikal sepupu seperti ini sudah sold out alias laku jadi bini/suami orang. Alhasil kita harus bersabar dengan sepupu lainnya dengan karakter yang unik-unik. Mudik di kampung halaman tidak hanya satu atau dua hari, paling lama 2 minggu. Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai anak muda bagian dari keluarga besar supaya tidak bete?. Mencari teman mengobrol yang seumuran adalah pilihan super thumb. Paling tidak ada teman untuk sama-sama berbagi penderitaan dari gempuran pertanyaan seputar jodoh, karir dan keuangan. Sabar ya nak, puk..puk..puk..

logo panah arrow Mengobrol dengan si-“mbah” seperlunya.

Nggak ada bapak atau ibu, maka kita tidak akan lahir ke dunia ini. Nggak ada si-“mbah”, maka tidak ada bapak atau ibu kita. Nenek atau kakek kita terkadang ada yang tidak bisa berbahasa Indonesia dengan lancar,hal  ini menjadi salah satu kendala komunikasi. Jangan khawatir, pasti ada saudara kita yang bisa menerjemahkan omongan beliau. Tapi kita harus siap-siap dengan gempuran dari sepupu atau paman kita yang menyindir “Ora Iso Ngomong Jowo” (Nggak bisa bahasa Jawa).

Setelah sungkeman lalu mengobrolah dengan mereka seperlunya, untuk menghindari pertanyaan klasik “Bojo mu Ngendi?” (Istrimu mana?). Pengalaman terlucu dengan si “mbah” adalah ketika ia tidak mengenali aku sebagai cucunya. Hikksss…. cucu yang terlupakan & kemungkinan nggak dapet warisan. 😀

Ketika si mbah bertanya “Iki Wahyu?, Wahyu Sopo?, anak’e sopo?” (ini Wahyu?, Wahyu siapa?, anaknya siapa?). Ingin rasanya pulang atau jangan-jangan kita sampai di kampung yang salah.

logo panah arrow Jadi pengasuh anak sementara

Jika kamu suka anak-anak sepertinya cara seperti ini sangat mudah untuk dilakukan. Tinggal bilang ke keponakan yang lucu imut gemes itu “dek anter mas ke sana yuk, nanti mas beliin ini itu”, pasti dedek gemes akan menuruti kehendak kita tergantung dari barang yang ditawarkan. Bagiku sih, lebih baik keluar uang daripada keluar tenaga dan pikiran untuk menjawab pertanyaan seputar jodoh.

logo panah arrow Jalan-jalan ke tempat yang menarik sendirian.

Pergi ke pasar tradisional sendirian untuk mencicipi kuliner khas daerah, bukan ide yang buruk. Kita bisa mencicipi makanan lezat yang menjadi ciri khas sebuah kota dan juga camilannya, contohnya gendar pecel wonogiri yang menjadi makanan otentik yang ada di Wonogiri ini. Dalam keadaan tertentu, enjoying solitudeness menjadi salah satu pilihan untuk menghilangkan rasa bete tersebut. Kenapa?, karena hanya diri sendiri yang tahu apa yang diinginkan.

logo panah arrow Sedia powerbank sebelum handphone lowbatt.

Ini wajib dan penting. Handphone dan powerbank adalah teman yang setia di saat suka dan duka. Dari awal berangkat mudik sampai kita kembali ke kota asal, mereka tidak lepas dari pengawasan kita. Yang harus diperhatikan adalah jangan memainkan handphone di depan paman atau bibi kita, sebagian orang beranggapan kalau hal tersebut tidak sopan. Jadi kita harus bijak dalam menggunakan handphone ketika kita sedang berbicara kepada paman atau bibi kita.

logo panah arrow Mengabadikan momen dengan handphone

Selain selfie bersama sepupu dan keponakan, kita bisa mengambil gambar pemandangan yang tidak ditemukan di kota asal. Pertama kali datang ke Wonogiri aku sangat kelelahan karena udara yang sangat panas. Tapi banyak hal menarik yang aku temukan di Wonogiri seperti gugusan bebatuan, langit yang lebih biru, tumbuhan perdu, semak-semak yang menguning, bangunan rumah khas Jawa dan lain sebagainya.

Sudah seharusnya kita menjadi pribadi yang lebih baik tiap tahunnya, lebaran di kampung halaman bisa jadi sebuah ajang pembuktian kesuksesan seseorang dan juga ajang pembuktian keberhasilan orang tua dalam membesarkan anak-anaknya. Jodoh, keturunan, keuangan dan karir adalah pertanyaan yang harus kita sikapi karena percuma untuk menghindar dari pertanyaan-pertanyaan tersebut di tiap tahunnya. Siapkah kita di tahun depan ketika bertemu dengan sanak family masih menjawab pertanyaan yang sama?, tentu tidak. Berdoa, bersyukur, ikhtiar, sabar dan terus berjuang untuk kehidupan yang lebih baik tahun ini dan tahun depan. Aku selalu memegang teguh prinsip bahwa:

Usaha tidak pernah mengkhianati hasil.

Advertisements

6 Replies to “Tips Lebaran tidak bete & menyenangkan. 1437H”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s