Will I even get married before I turn 27 ?

Why is love only so heavy to me?. There’s only your empty spot filled my tears.

Siapa bilang, yang deg-degan menjelang usia 27 itu hanya perempuan?. Aku masih khawatir akan beberapa hal yang menghantui diri ini, selain dari dalam diri sendiri ada juga hal-hal dari luar yang membuat aku sangat khawatir.

Belum kawin, gimana dong?. Woles aja.
Belum kawin, gimana dong?. Woles aja.

Apa yang membuat aku khawatir?

  • Pertama relationship. Pernah nggak sih ditanya sama pacar, “Jadikan aku halal bagimu?”. Intinya nge-push laki-laki untuk kiwin. Dari pertanyaan ini, aku berasumsi ia memberikan pilihan – lanjut atau nggak?.

“Jujur aa pengen lanjut sama kamu, tapi kondisi aa seperti ini. Aa ingin nanti kita hidup berkecukupan dengan rumah sederhana dan pekerjaan yang aa miliki adalah pekerjaan yang halal dan mapan. Sekarang aa masih mencari pekerjaan yang lebih baik. Aa ingin kamu nunggu aa, mungkin akan lebih indah kalau kita mulai sama-sama dari nol”. Aku percaya kalau jawaban ini adalah jawaban yang terbaik, semoga ia mau menungguku.

Intinya kalau mencari perempuan -jangan temui perempuan dengan gaya hidup menuntut modal besar- 😀

  • Kedua career. Apa sih yang kamu cari dari sebuah pekerjaan?; Looking for a job according to your desire until retire, YES. Bekerja maksimal sepenuh hati dengan dedikasi yang tinggi, suasana pekerjaan nyaman dan menyenangkan, terkahir adalah gaji cukup.

Beginilah yang aku alami sekarang, jika hasrat seseorang yang menyukai aktivitas di luar maka akan kaku apabila di tempatkan di dalam ruangan. That was happened to me.

Terlebih lagi ketika aku mengalami kegagalan untuk yang ke-lima kalinya pada saat proses rekrutmen. Ya, sudah lima kali aku gagal dan belum mendapatkan kesempatan untuk bekerja di Arab. Should i give up?. No, I wont. Berapa kalipun aku gagal, aku akan bangkit berulang-ulang.

Be positive, Stay Motivate, Get Your Dream and Growing“, itu adalah pesan yang diberikan oleh Amanda – India, Miranda – New Zealand & Maria – Maroko.

  • Ketiga khawatir akan pendapat orang lain.

Membuka facebook adalah tindakan yang kurang tepat. Berbeda dengan path atau instagram, teman-teman di facebook biasanya berasal dari almamater yang sama, SD sampai kuliah. Melihat teman-teman yang sudah berfoto dengan istri atau suami masing-masing, berfoto dengan background Pajero Sport atau rumah kpr, teman dengan jabatannya sudah spv sekarang dan masih banyak lagi.

Melihat facebook adalah caraku untuk memotivasi diri sendiri, melihat ke atas mungkin bagus. Tapi alangkah baiknya, kita melihat ke bawah. Tidak semua teman bernasib baik, ada juga yang gagal dalam bisnis usaha dan bahkan masih menganggur.

Semua sumber kekhawatiran seorang laki-laki normal biasanya adalah finansial. Kalau ada hal lain selain finansial bisa komentar di bawah loh, feel free.  Orang-orang disekeliling aku selalu bilang seperti ini, “Nikah aja bro, ntar rejekin ngikutin!”. Are you believe that phrase?, honestly I’m little doubt it. Kalupun aku menikah menikah dalam waktu dekat, aku tidak akan tergesa-gesa karena di tahun pertama dan kedua pernikahan banyak sekali biaya yang dikeluarkan.

Beberapa kerabat sering bertanya perihal pernikahan, kebanyakan dari mereka bertanya hal-hal standar tanpa masukan yang berarti seperti.

“Nikah dong Yu, keburu tua. Nanti jadi lembek loh kayak odol”.

Iew… Nggak mungkin jadi lembek lah!.

Tapi obrolan dengan Rex, teman kuliah yang sudah menikah dua tahun lalu memberikan gambaran yang lebih luas tentang pernikahan dan finansial.

“Kapan nikah yu?”

“Aku ingin berkarir di tempat yang lebih baik, menabung, setelah itu baru menikah”.

“Keburu kabur loh calonnya. Just believe me Yu, -MONEY PROBLEMS CAN ENCOURAGE COUPLES TO SPEND MORE TIME TOGETHER AND LAUGH MORE-”

Jleb banget dong. Kemudian aku terdiam dan hening sesaat.

“When money removed from the table, love becomes own currency. Lu tau kan gue nggak kaya. Waktu resepsi , di depan rumah aja nutupin jalan komplek. Tapi alhamdulillah, sekarang lebih dari cukup. Ayo nikah, Insyallah rejeki terbuka lebar.”

“Thanks for your advice dude”,

“Anytime”

Semoga saja, dibukakan pintu rejeki supaya bisa nikah tahun depan. Mulai sekarang harus kurangin nongkrong, mengejar karir sesuai hasrat, nabung & baca tulisan finansial yang bagus dari mas mas dani, terakhir kurangin travelling (agak susah sih yang ini).

Semoga bisa kiwin tahun depan.

Advertisements

18 Replies to “Will I even get married before I turn 27 ?”

  1. Kawin mah gampang Mas tinggal buka baju, nikah yang susah bin ribet! 😂😂😂
    Lagian umur baru 27 nyantai aja lah, kecepetan kalo mo kawin, eh, nikah. Fokus ke tabungan & karir aja dulu 😉

    Like

  2. Aku pernah mendapat pertanyaan “maut” seperti poin pertama. Itu satu keputusan terpenting lelaki. Rasanya seperti bakal dibebani tanggung jawab besar.

    Beban itu yang menurutku jadi penghalang menikah. Kalau aku lebih suka melihat nikah sebagai amanah, kesempatan, batu loncatan.

    Semoga jalannya dilancarkan 🙂

    Liked by 1 person

  3. Saran aku, udah nikah aja! Insha allah rezekinya makin lancar hahaha. Kan dulu solatnya sendiri, udah nikah berdua. Dulu berdoanya sendiri, udah nikah berdua. Mudah2an rezekinya juga jadi double jugak 😀

    Liked by 1 person

      1. Itu kata Ustad Yusuf Mansur mas hehe. Intinya kalau nikah segala ibadah bisa dilakukan berdua, selain sweet bisa jadi ladang pahala juga. Jadi jangan lah ditunda2 kalau udah ada pasangan yang pas 😀

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s