Three Thousand Miles For A Wish – Safiya Hussain

Astagfirullah, sudah tanggal 5 Februari 2016. Awal bulan diwali dengan postingan yang baru dimulai ini, sebetulnya ide-ide bermunculan ketika saya mengunjungi kota Jambi minggu ini. Hanya saja, aku belum terbiasa menulis di ponsel. Sangat kecil displaynya dan sering banget typo, ya… mau gimana lagi? Nggak mungkin kan, jari jempol diperkecil. Alhasil hanya main idea saja yang bisa diketik di ponsel.

Dari hotel – sungai batang hari – menara gentala arasy – pempek selamet – balik lagi ke hotel, kegiatan terus berulang. Jambi adalah kota berkembang dan tidak terlalu besar, beberapa pusat perbelanjaan di bangun di sudut kota. Kota ini menjadi daya tarik bagi para investor dalam dan luar negeri, namun pariwisata kota ini harus ditingkatkan lagi. Selama berada di sini, saya habiskan waktu untuk membaca novel ditengah rasa bosan yang mendera di kamar.

Novel yang aku baca kali ini adalah Three Thousand Miles For A Wish karya Safiya Hussain published by New Age Publisher, Lanchsire – England. 2011 dan diterjemahkan ke bahasa oleh Penerbit Zaman. Berkisah tentang seorang pengacara wanita di Inggris yang sedang berada di  puncak karirnya dan sedang mencari arti makna hidup.

Three Thousand Miles For A Wish - Safiya Hussain
Three Thousand Miles For A Wish – Safiya Hussain New Age Publisher

Tokoh utama lahir di keluarga muslim, sejak masih kecil diajarkan keesaan Allah, Al-qur’an sebagai pedoman, hadist Rosulullah SAW, dan tujuan terakhir yaitu surga dan neraka. Sebagai pemimpi gigih yang ambisius, ia akan melakukan apa saja untuk mecapai hal yang ia inginkan, dan seiring pertumbuhannya, keyakinannya kepada Allah berkembang. Hari-hari berlalu, tahun demi tahun ia tumbuh menjadi seoran gadis yang sukes namun ada lubang dihatinya yang sedang ia cari isinya. Kekacauan terjadi saat ia putus dari kekasihnya yang ternyata menduakannya, dan masalah berat lainnya. Disaat membutuhkan pertolongan Allah, sepertinya Allah tak ada, hidupnya sudah hancur berkeping keping namun pertolonganNya tidak kunjung datang.

— Hingga harapannya kepada Allah mulai memudar. Gadis ini pun tergoda untuk menyakiti dirinya sendiri dan berontak. Dalam pergolakan batin, keputusan mendalam, ia larut dalam hal-hal yang bertentangan dengan islam dan moral. Ia pun memasuki dunia getir-manis yang penuh dosa . Memanfaatkan lelaki lain sebagai pelampiasan, bolos kerja. Ia membalas kekecewaan dengan ancaman, penghinaan dan kekerasan yang dilampiaskannya kepada orang tuanya dan teman-teman terdekatnya. Meninggalkan shalat, menentang Allah dan bergaul dengan penjual narkotik adalah cara dia untuk melampiaskan amarah yang ada di dirinya.–

Novel karya Safiya Hussain ini sangat menarik, karena kita bisa merasakan pergolakan batin seorang wanita yang sedang depresi yang tengah berhaji berharap dapat keluar dari masalah-masalah yang menghadapinya.

Bagian yang paling saya sikai adalah ketika Sarah mencurahkan semua isi hatinya pada saat bermalam di Mina dan wuquf di Padang Arafah. Kita terbawa emosi yang dituliskan Safiya Hussain, tak ayal mata menjadi sedikit menghangat dan sedikit basah ketika membaca novel ini.

Bahasa dan tutur kata yang disajikan sangan puitis nan indah, dengan alur maju & mundur. Menggambarkan pengalaman ibadah haji yang sangat rinci, dimulai dari ia dan keluarganya tiba di bandara Jeddah, seluruh prosesi ibadah haji sampai kembali lagi di Inggris.

Jujur, saya ingin sekali melaksanakan ibadah haji setelah membaca novel ini. Ingin sekali bisa merasakan solat dekat ka’bah, menyentuhnya, mencium hajar aswad, minum air zamzam, dan semua ritual ibadah haji – tapi bayangkan di Indonesia waiting list nya sampai 17 tahun untuk ibadah haji reguler. Berbeda dengan negara lain yang lebih cepat dan tidak begitu mahal. Ah, entahlah… Namanya juga Indonesia!. Tapi kita tidak boleh kehilangan semangat karena ada banyak orang diluar sana yang dapat melaksanakan ibdah haji tiap tahunnya dengan background ekonomi yang pas-pasan.

Membaca novel ini membawa kita seolah berada dalam ritual ibadah haji. Dengan bahasa puitis yang tidak membosankan, novel ini dapat dinikmati lebih dari satu kali walaupun sudah selesai dibaca.

Ya Allah, semoga saya bisa melaksanakan ibadah Haji kelak. Ijinkan aku bertamu di sana. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Advertisements

One Reply to “Three Thousand Miles For A Wish – Safiya Hussain”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s